Januari 11, 2007
Posted by ilham in Stop Press.trackback
Pernah suatu ketika, para insinyur sanggup membangun sebuah motor dengan mesin terbaik, tampilan terbaik, dan performa terbaik. Saat itulah kita mengimpikannya sebelum memiliki, dan senantiasa terkenang seandainya menjualnya.
Motor-motor seperti itu bagaikan kekasih. Kemolekan bodynya menawan hati. Raungan mesinnya menggetarkan. Tarikan tenaganya mendebarkan. Dan, what is priceless than what money can’t buy?
Pada tahun 1999, John Brown, seorang pemerhati sejarah motor dan penulis motor kawakan, menerbitkan Dream Machines. Pada akhir 2005 buku ini sampai ke tangan saya dalam versi yang sudah di-update (2004). Buku ini yang sangat menarik karena lahir dari serangkaian penelusurannya terhadap sisa-sisa tipe dan merek motor yang sempat ditelurkan para insinyur terbaik pada masa masing-masing.
Bisa ditebak dari judul, motor-motor yang diulas dalam buku ini adalah motor dengan mesin terbaik-dan tentu saja, performa terbaik. Yang menarik, pendekatannya dilakukan secara historis maupun secara kompratif.
Secara historis artinya Brown menilai kemampuan sebuah pabrikan/merek keluar dari keterkungkungan desain dan teknologinya dengan melahirkan produk baru yang sangat impresif. Sebagai contoh, produk Triumph Speed Triple 599 yang benar-benar membangkitkan pabrikan dan merek ini dari kuburnya setelah mati suri selama bertahun-tahun. Dan alhasil, disusullah dengan produk-produk mereka yang sangat hebat belakang.
Begitu pula produk mutakhir Harley V Rod yang dirilis tahun 2003 bukan saja mengukuhkan Harley sebagai produk ekslusif, tapi juga eksotik, cepat, dan nyaman. Sangat jarang pabrikan ini mengeluarkan motor gaya cruiser/turing dengan bekal mesin berbasis sport. Bayangkan saja, V Rod dijejali mesin yang sempat dipakai pabrikan ini bertarung di kompetisi AMA Superbike 2000-2002.Dengan pendekatan kompratif artinya sebuah/tipe motor tertentu dari sebuah pabrikan benar-benar lahir untuk mengalahkan rival-rival yang seangkatan dan sekelasnya. Bahkan dalam beberapa kasus sebuah produk mempengaruhi desain dan keinginan pabrikan lain menyamainya dari segi apapun. Contoh terbaik jenis ini adalah Ducati 916 yang sampai sekarang banyak dicontek. Lihat saja Ducati 996 hingga 999, tipe R maupun S. Atau Cagiva Mito dan atau MV Agusta F4. Juga jangan tanya kehandalannya di ajang Superbike yang dalam 2 dekade ini begitu dominan..
Atau, Suzuki Hayabusa yang tidak perlu dikomentari lagi. Sebelum itu, ada CBR Fireblade atau Suzuki GSXR. Bahkan jika ditinjau dari segi performa mesin motor production stock, maka orang akan tercengang jika ternyata Suzuki GSXR 1000-lah yang dianggap masterpiece hingga saat ini. Minimal inilah versi Brown. Menurutnya para pengamat pernah tidak bisa membayangkan lagi sebuah produk massal dengan maksimal 1000cc akan menghasilkan motor sebaik itu, baik karena tenaga, top speed, dan handling. Tidak heran jika di superbike 2005, Troycorser melahap juara dunia dengan mudahnya.
Ulasan-ulasan dalam buku ini sangat menarik, meskipun belum mencover sejumlah motor lansiran 2005-2006. Pengemasannya di atas kertas art paper full colour dan sejumlah jepretan kelas dunia tak kalah bagusnya. Setiap spesifikasi motor, asal-usul dan performanya diulas lengkap. Tentu dengan menyertakan test ride dan komentar pakar-pakar lain mengenai setiap merek. Sayang sekali buku ini tidak dijual bebas di toko-toko buku di Indonesia. Jadi masih harus pesan dari LN.
Selamat berburu!
PS. Foto 1 Ducati Demons adalah project design untuk Ducati atas bantuan software 3D. Belum real, juga belum ada kabar kapan diproduksi.
- Judul: Dream Machines @ Motorcycles

- Penulis: Roland Brown
- ISBN: 076073819x
- Format:
Hardcover dan Softcover - Penerbit: Parragon Publishing
- Terbitan: Edisi Revisi 2004 (terbit pertama kali 1999)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar